Seperti museum l
ain, sebagian besar isi museum Kartini adalah benda-benda peninggalan, ada foto-foto pribadi dan keluarga (konon di jaman kamera masih langka, Kartini sudah hobby berfoto!), naskah-naskah tulisan tangan (terlihat Kartini sangat produktif dalam menulis), perabotan rumah yang beliau gunakan semasa hidupnya, dan beberapa karya seni yang beliau pernah buat, seperti lukisan. Selain milik Kartini, di ruang lain terdapat pula benda-benda milik keluarga, koleksi peninggalan bersejarah di Jepara, dan benda kerajinan khas Kabupaten Jepara.Kompleks museumnya terdiri dari beberapa gedung. Yang unik, masih di dalam kom
pleks museum yang ada di jalan Alun-alun no.1 ini terdapat bangunan lama tempat Kartini mengajar anak-anak pribumi di masa lalu. Menurut catatan museum, gedung ini mulai dibangun 1975, dan resmi dibuka tahun 1977. Harga masuknya pun murah, cuma seribu rupiah (untuk dewasa). Ketika pulang dari sana, sempat terpikir selintas, sepertinya Kartini terlahir terlalu awal, padahal sebagian besar ide dan pemikirannya sangat relevan diterapkan pada generasi berikutnya. Selamat Hari Kartini!!
1 komentar:
Bicara Kartini bukan hanya bersenggolan dengan gender, tapi juga membetot keseluruhan tentang revitalisasi dan martabat Indonesia sebagai sebuah nation. Maka museum itu adalah jejak dalam otak kita, sekaligus napak tilas terhadap keinginan untuk terus mengejar ketertinggalan yang selanjutnya bersejajar dengan bangsa-bangsa lain, grokkk.. grokkk...
Posting Komentar