
Sadar atau tidak, pesan yang dikandung dalam sebuah desain seringkali terabaikan. Pesan itu seringkali terbungkus dalam olahan detail desain-desain bangunan yang sering kita ikuti.

Dunia desain adalah dunia penciptaan. Penciptaan selalu terikat dengan runtutan proses dan keterkaitan waktu. Sebuah desain bisa dinilai dari runtunan prosesnya, begitu juga dengan waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkannya. Keinginan dan kepentingan selalu meliputi proses desain.
Proses perwujudan sebuah desain bisa jadi kompleks dan bisa juga sangat sederhana. Namun bisa saja di dalam kesederhanaan itu, kita justru menemukan kedalaman makna, dan sebuah rangkaian cerita yang membuat mata berbinar. Seperti halnya olahan desain Taj Mahal, yang mensyiratkan kekuatan cinta dari kekuatan detail dan proporsi bangunannya. Latar belakang pembuatan Taj mahal adalah karena cinta, yaitu sebuah monumen cinta dari sang raja kepada permaisurinya yang wafat terlebih dahulu.

Begitupula dengan Candi Borobudur. Siapa sangka, bangunan semegah Borobudur adalah wujud cinta dari Rakai Panangkaran yang dikenal sebagai sosok spiritualis. Sosok ini begitu tanggap terhadap kehidupan manusia yang saat itu begitu kacau balau. Maka untuk itu diperlukan sebuah bangunan pemersatu berupa candi yang menyimbolkan ajaran jalan kehidupan yang baik. Ajaran tersebut dalam bentuk batu berundak (Candi) yang berisi ajaran hidup Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. itulah karya arsitektur masa lalu yang meninggalkan seribu cerita dan beribu sudut yang memukau.
Kemegahan tak harus terlihat dari sosok bangunan yang ada. Kemegahan makna dari bangunan revitalisasi Kali Code karya Romomangun, memberikan sebuah ruang apresiasi pada detail-detail kehidupan yang sebelumnya termarginalkan. Pemberian warna-warna menjadikan kawasan Kali Code menjadi sebuah rangkaian ornamen kehidupan. Semua perhatian dan harapan itulah yang membuat sebuah desain terasa penuh cinta.
Terkadang kemudahan itu bisa sengaja ataupun tak sengaja disimpan oleh sang desainer dalam sebuah benang merah konsep-konsep desainnya yang lain. Saat itulah desainer membuat pesannya untuk orang lain, agar cintanya selalu terlihat, dan berbekas, jika bisa sepanjang sejarah.
Bangunan bukan hanya wadah, tapi bisa juga menjadi sebuah proses yang menceritakan keterikatan desainer dengan waktu dan rasa. Rasa cinta yang terolah dalam sebuah karya rumit, atau rapi, yang seolah tak mengenal waktu saat menciptakannya. Rasa senang, yang terolah dalam sebuah elemen yang terkomposisikan secara kontras dan menimbulkan pencerahan, atau rasa berontak yang ditunjukkan dalam ketidakseimbangan komposisi.
Saat desainer menyampaikan pesan, maka pesan itu tak hanya terasa di telinga, namun terlihat dimata, dan terasa di hati.
Sumber:
- www.altiusdirectory.com.jpg
- www.dezeen.com.jpg
- www.dreamstime.com.jpg
0 komentar:
Posting Komentar