
Tak ada hal yang lebih menyedihkan daripada menyaksikan bangunan yang terabaikan. Karya arsitektur pasti melalui satu proses panjang yang melibatkan pikiran, hati, lingkungan, dan segala hal. Lantas mengapa orang-orang mengabaikannya?
Saya berulang kali menanyakan hal tersebut pada orang di sekeliling saya ketika melihat pasar induk Sei Jodoh di Batam. Bangunan pasar itu desainnya sungguh luar biasa. Saya yakin arsiteknya telah mencurahkan segala jiwa dan pikirannya saat menyelesaikan desain pasar itu. Eksplorasi materialnya maksimal, bentuk massa yang unik, struktur bentang lebarnya tidak main-main, pastilah menghabiskan banyak biaya. Dibangun 2004, kini pasar itu mati, kondisinya rusak, tidak ada aktivitas jual beli-hanya ada sedikit orang yang menumpang hidup di situ. Bangunan yang tidak terawat itu akhirnya seperti situs bersejarah dengan kondisi rusak sana sini.
Apa yang terjadi? "Pengelola pasar tidak mampu membayar biaya maintenance bangunan itu," kata Joko ...., Dirut PD Pasar Jaya, dalam satu seminar di Batam. Begitu banyak detail bangunan yang butuh perawatan ekstra, material lantai dari batu ternyata sulit dibersihkan. "Nggak bisa cepat dipel," jelas Joko. Desain memang menjadi hal utama dalam pembuatan bangunan umum seperti pasar. Kita paham bagaimana suasana pasar yang sibuk dan penuh manusia dari berbagai latar belakang. Banyak hal wajib yang harus dipenuhi seorang arsitek, seperti sirkulasi, kemudahan perawatan, dan pembagian ruang yang optimal. Bila itu sudah terpenuhi, arsitek bisa bebas mengembangkan aspek lain.
Edy, seorang rekan yang ikut meninjau lokasi bersama saya berpendapat: "Ini sih terlalu keren untuk bangunan pasar, nggak sesuai dengan karakter manusianya." Saya sih kurang setuju, memangnya pasar harus becek dan kotor? Apa salahnya punya pasar keren (atau pacar keren? Haha..). Tapi Candi, teman saya yang lama bermukim di Batam punya pendapat lain: "Kalian tau nggak, di Batam itu aneh. setiap ada bangunan baru, bangunan yang sebelumnya pasti ditinggalkan terus mati, ya pasar itu salah satunya." Wah apa nggak rugi ya, pengusaha propertinya? Menurut Candi, mati atau tidak itu bukan urusan mereka, yang penting duit bank sudah berhasil keluar. Entah bagaimana logikanya, saya kurang jelas.Ya, entah apa alasannya, yang jelas bangunan pasar induk Sei Jodoh sudah rusak, seperti sisa-sisa kejayaan kota di masa lalu namun tanpa cerita sejarah yang panjang. Menyedihkan..
2 komentar:
Kita tumbuh dalam kultur yang lebih pintar membuat ketimbang merawat, lebih suka membeli ketimbang memperbaiki.
Merawat sesuatu memang tidak mudah, dalam hal apapun, bukan cuma bangunan.
Posting Komentar