Suka warna netral?
Simak video ini untuk mendapatkan tips menata ruang dengan warna netral.
my design journal
Saya cukup membayar Rp 2.500 saja untuk bisa masuk ke dalam rumah. Rumah pengasingan ini sesungguhnya milik seorang saudagar Cina yang disewa oleh pemerintah Belanda untuk "membuang" Bung Karno di tahun 1938. Saya bisa melihat ornamen Cina pada lubang angin di atas pintu dan jendela. Rumah penuh buku yang pernah dibaca Bung Karno selama pengasingan. Saya membayangkan Bung Karno membaca buku-buku itu di beranda depan atau belakang yang adem. Halaman di sekitar rumah luas dan posisi rumah masuk ke dalam, jauh dari jalan raya.
Bung Karno di Bengkulu ternyata juga membuat usaha mebel. Nama tokonya? Perusahaan Mebel Sukamerindu, sesuai dengan nama jalan tempat toko itu ada. Toko ini beliau bangun bersama dengan pengusaha Cina bernama Oei Tjeng Hien. Bung Karno bertindak sebagai desainer furnitur. Mereka pun pernah mengikuti pasar malam untuk memamerkan desain-desain mebel. Dan Bung Karno pernah membuatkan meja rias untuk Fatmawati, gadis asli Bengkulu yang dijumpai saat pengasingan dan kelak menjadi ibu negara. 

Edy, seorang rekan yang ikut meninjau lokasi bersama saya berpendapat: "Ini sih terlalu keren untuk bangunan pasar, nggak sesuai dengan karakter manusianya." Saya sih kurang setuju, memangnya pasar harus becek dan kotor? Apa salahnya punya pasar keren (atau pacar keren? Haha..). Tapi Candi, teman saya yang lama bermukim di Batam punya pendapat lain: "Kalian tau nggak, di Batam itu aneh. setiap ada bangunan baru, bangunan yang sebelumnya pasti ditinggalkan terus mati, ya pasar itu salah satunya." Wah apa nggak rugi ya, pengusaha propertinya? Menurut Candi, mati atau tidak itu bukan urusan mereka, yang penting duit bank sudah berhasil keluar. Entah bagaimana logikanya, saya kurang jelas.
Satu yang sangat menarik, saya melihat tarian yang saya belum pernah lihat. Namanya tari None Toegoe, ini lebih unik lagi karena gerakannya kayak tari-tarian di Eropa. Ya memang di Tugu ada komunitas yang konon masih keturunan Portugis, jadi budaya dan wajahnya agak berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. anyway, selamat untuk jakarta utara yang mendapatkan piala Adipura. mudah-mudahan bukan tidak seperti komentar orang di koran: "kok bisa ya, bukannya polusinya tinggi, sungainya kotor, langganan banjir, dan sampah menggunung di pinggir-pinggir kota?" hmm..


