, , ,

bertemu none toegoe

Share
saya kebetulan berada di dekat kantor walikota jakarta utara ketika iring-iringan mobil hias membikin macet jalan. ooh..pemkot jakarta utara baru saja mendapatkan piala Adipura dari Presiden SBY. saya masuk ke halaman walikota dan ikut melihat prosesi iring-iringan. di dalam, para penari dan pemain musik tradisional sedang gladi bersih. "iring-iringan sudah dekat, ayo kita siap-siap," teriak MC di teras kantor walikota. seseorang berbisik kepada saya, pak Walikota ada dalam rombongan dari balai kota. lalu, para senimann tradisional ini dipersiapkan untuk menyambut kedatangan piala yang bergengsi itu.

ketika rombongan sudah sampai di gerbang, mereka dicegat dulu oleh para seniman lenong. mereka bercakap-cakap dengan gaya betawi yang khas seputar jakarta utara dan piala Adipura. sesekali diselingi oleh celetukan-celetukan khas yang kocak dan merakyat (bukan banyolan tak bermutu ala anggota parlemen kita). tak lama iring-iringan hampir sampai di depan teras Walikota. lagi-lagi perjalanan mereka terhenti sejenak untuk melihat prosesi penyambutan oleh para seniman. ada tari-tarian, reog ponorogo, bahkan barongsai. lho, tapi apakah semua itu kesenian khas jakarta?

"seperti itulah pesisir Jakarta," kata Kasudin Kebudayaan Jakarta Utara. "Kita ini terbentuk dari beragam kebudayaan yang berbeda-beda, semua ada di sini, hidup berdampingan dan saling menghormati," lanjutnya. Setuju, di pesisir utara ini kota jakarta bermula. sejak abad 16 para pendatang saling mengadu nasib dan proses itu masih berlangsung hingga sekarang. "Coba sebut suku apa yang tidak ada di jakarta?" tanyanya. Hmm.. orang timbuktu ada nggak ya :) Dan keberagaman itu juga tampak pada tarian Lenggang Nyai, yang para penarinya menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah. Ada Bugis, Bali, Jawa, Padang, dan lain-lain.

Satu yang sangat menarik, saya melihat tarian yang saya belum pernah lihat. Namanya tari None Toegoe, ini lebih unik lagi karena gerakannya kayak tari-tarian di Eropa. Ya memang di Tugu ada komunitas yang konon masih keturunan Portugis, jadi budaya dan wajahnya agak berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. anyway, selamat untuk jakarta utara yang mendapatkan piala Adipura. mudah-mudahan bukan tidak seperti komentar orang di koran: "kok bisa ya, bukannya polusinya tinggi, sungainya kotor, langganan banjir, dan sampah menggunung di pinggir-pinggir kota?" hmm..

2 komentar:

agnesss mengatakan...

jangan-jangan, kota-kota lain lebih buruk dari jakarta? sehingga jakarta yang menurut kita buruk ini tetap lebih baik dari daerah lain.. (just my opinion)

MYA mengatakan...

wah betapa menyedihkan kalau memang demikian. saya jg gak ngerti kriteria penjuriannya seperti apa sehingga jakarta bisa menang.