, ,

Senayan, Riwayatmu Kini

Share






Senayan (atau Gelora Bung Karno), menurut keterangan yang saya dapat dari wikipedia.org adalah sebuah kompleks olahraga serbaguna di Senayan, Jakarta, Indonesia. Dibangun dalam rangka menghormati Soekarno, Presiden pertama Indonesia, yang jadi penggagas pembangunannya.

Dalam rangka de-Soekarnoisasi, pada masa Orde Baru, nama kompleks olahraga ini diubah menjadi Gelora Senayan. Setelah bergulirnya gelombang reformasi pada 1998, nama kompleks olahraga ini dikembalikan kepada namanya semula melalui Surat Keputusan Presiden No. 7/2001.[1]

Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS yang kepastiannya diperoleh pada 23 Desember 1958.




Hingga saat ini, Gelora Bung Karno memiliki daya tarik yang kuat. Warga berbondong-bondong menuju Gelora Bung Karno. Tak hanya untuk berolah raga, tapi juga untuk "menghela nafas", relaksasi, setelah melalui kepadatan jadwal harian dan kepadatan pikiran.




Tepat jika dikatakan Gelora Bung Karno adalah salah satu "paru-paru" ibukota. Letaknya di tengah-tengah deretan pencakar langit memberikan angin segar dan ruang untuk beraktivitas.

Namun diantara ruang tersebut, ada potensi yang bisa merusak fungsi utama dari ruang kota itu sendiri. Pertumbuhan pedagang kaki lima yang tidak terkontrol misalnya. Ruang-ruang hijau di Gelora Bung Karno menimbulkan kesempatan untuk berinteraksi. Titik-titik interaksi inilah yang potensial untuk dijadikan lahan berbisnis para pedagang kaki lima. Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatur keberadaan pedagang kaki lima ini. Usaha itu tidak bermanfaat banyak, karena pangkal permasalahannya belum tersentuh. Ruang-ruang interaksi, berupa area istirahat, area parkir, dan area pintu gerbang yang "dimampatkan" justru menjadi "ruang positif" bagi pedagan kaki lima.

Mungkin solusi yang bisa dilakukan adalah, pemetaan kembali lahan parkir, dan jalur /path menuju area berlari.

4 komentar:

MYA mengatakan...

jek kalo ga ada kaki lima susa jg mo jajan2 kalo abis jogging. langganan gw dulu nasi gila, gak nemu lg tu yg seenak itu, sluurpp.... (apa karna laper aja ya) :p

Anonim mengatakan...

hehehehe.. iya mee.. tapi memang pedagang di senayan itu kebanyakan "pemain lama", ... jadi harusnya pengelola lebih fleksibel untuk bikin tempatyang pantas untuk pedagang yang loyal..

MYA mengatakan...

bener2, sebaiknya jgn diilangin total ya..

si anis mengatakan...

gw inget kalo ke senayan hari minggu, niatnya mo jogging, mesti deh nyari nasi pecel madiun duluan hehe..trus pas udah kenyang, lupa olahraga!