, ,

Memaknai Kota Tua Jakarta (Tanpa Syarat)

Share
Apa yang terjadi pada kesempurnaan...
Bila kemapanan membuat kita terlupa
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila ikatan rasa indah hanya menjadi penjara
Apa yang terjadi pada kesempurnaan
Bila hanya membuat yang tak sempurna jadi sengsara...

:)..
Saya membuat kalimat-kalimat tersebut.. saat melihat keajaiban bentuk dan detail yang disodorkan kota tua jakarta.
Perubahan gradual pada bentuk kota lama, dan ruang-ruang kota yang menemaninya, selalu membuat cerita. Bahkan, cerita tersebut bisa dibungkus dalam rangkaian-rangkaian puisi yang indah, atau bisa juga menjadi rangkaian puisi bernada apatis.





Indah,…

saat kita membayangkan pluralitas kepentingan yang ada didalamnya. Melihat berbagai macam laku individu, yang memanfaatkan ruang kota sebagai latar cerita. Latar cerita hidup yang berakhir di album-album kenangan. Bagi saya indah, karena menjadikan ruang kota sebagai latar panggung maya kehidupan. Panggung yang menjadikan individu terikat dengan histori kota, walau hanya dalam konteks ruang kaku dalam frame album kenangan. Semakin banyak orang yang menginginkan latar itu, semakin orang sadar akan pentingnya sebuah background dengan identitas yang kuat, hingga mengingatkan kita pada ruang waktu.


Apatis,…

Saya terdiam bila ditanya, kemanakah akan dibawa makna Kota Tua ini?
Saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak bisa meramal. Saya hanya bisa terdiam, seraya membayangkan, kota tua semakin lama semakin lapuk. Karena setiap materi memiliki umurnya. Akankah kota tua akan menjadi diam dan lapuk? Apakah yang memikirkan kota tua juga akan ikut lapuk? Apakah kritisi terhadap pemaknaan kota tua akan menjadi mimpi-mimpi yang lapuk?
Waktu adalah taruhan dari kota tua. Saya takut, revitalisasi hanya memberikan make-up yang berumur jauh lebih pendek dibandingkan pertaruhan atas waktu tersebut, yang terus berlangsung tiap detik.

Memaknai tiap detik, bergerak kala teringat…


0 komentar: