, ,

lihat pameran di toilet

Share

Saya ingin berbagi cerita saat mendatangi pameran bioskop di sebuah galeri di Jakarta beberapa waktu lalu. Sebetulnya bukan cuma isi pamerannya yang inspiratif, konsep penataan display pamerannya juga menarik. Bagi saya yang jarang ke galeri atau sejenisnya, cukup surprise juga melihat ada display di dekat wastafel, toilet, dan tempat lain yang tidak biasa. Tidak melulu dipasang di papan-papan dalam ruang pameran.

Galeri ini memang menarik. Setelah mencari tahu (bukan tempe), ternyata galeri ini adalah bagian dari kompleks komunitas kebudayaan. Desainnya sendiri konon dikatakan "percobaan" dan dirancang oleh 3 orang arsitek ternama. Ketiganya mencoba menampung kegiatan berkesenian dengan cara-cara baru. Menurut arsitek boong-boongan kayak saya, cara-cara baru itu barangkali seperti meletakkan benda pameran di dekat hidran dan lokasi tak lazim lainnya. Hal itu jadi menarik sebab cara baru yang di luar kebiasaan memang biasanya mengasyikan. Tentang desainnya nanti saya ulas di artikel lainnya.

Nah, pamerannya sendiri bercerita tentang perjalanan panjang bioskop di Indonesia dari tahun 1900-sekarang. Kita bukan hanya menyaksikan bangunan bioskop yang sudah tua dan kemudian hilang dimakan zaman, tapi ada cerita-cerita di balik itu yang memberi tahu kita tentang kehidupan di tiap zaman. Terus terang bagi saya ini merupakan salah satu cara belajar sejarah yang efektif ketimbang menghapalkan tahun-tahun dan nama-nama pahlawan di buku sekolah dulu. Belajar sejarah berarti mencoba mengerti bagaimana generasi sebelum kita beraktivitas di masa lalu. Walaupun cuma membahas bioskop, tapi pameran ini cukup menjelaskan banyak hal, melalui foto, poster, teks, dan data-data lainnya.

Sekarang, jarang kita lihat gedung bioskop yang berdiri sendiri, pasti nempel dengan mal yang konsumennya sebagian besar adalah ABG. Oo, mungkin kalau sudah dewasa rata-rata sudah punya uang untuk bikin home theater sendiri. Rekan saya nyeletuk: "ah enggak juga sih, lebih dewasa mungkin lebih irit, nonton bajakan juga cukup"(duh..). Lalu di beberapa foto, kita bisa melihat gedung bioskop yang dulu mewah, megah, bergengsi, kini jadi rumah tua bagi si "homeless". Dalam hati kita menebak, sebentar lagi gedung itu akan berganti jadi mal yang katanya lebih bernilai ekonomi. Kita juga bisa paham bahwa bioskop lama itu sesungguhnya juga pernah menggusur seni pertunjukan tradisional seperti pentas wayang orang. Hmm, penindasan budaya baru memang kejam, ya.

4 komentar:

keshie mengatakan...

wah, sebagai orang yang demen nonton di bioskop, kayaknya pamerannya menarik juga tuh. dan soal konsep bioskop yang nempel ama mal, kayaknya lebih asyik gitu sih. jadi sambil nunggu filmnya tayang kan bisa jalan2/makan2 dulu :D bioskop yang enggak begitu, kayak planet hollywood, terbukti sekarang jadi enggak laku, padahal tarifnya uda dimurahin segala.

MYA mengatakan...

hai keshie, tengs udah mampir. sbg movie freak, elu mestinya liat ni pameran (tp skrg dah abis, taun dpn ada lg kayaknya). bener kes, bioskop jg nunjukin kebutuhan & tren gaya hidup. skrg lebih praktis kalo bbrp aktivitas lgsg dikerjain di tempat yg sama. kalo gak bs adaptasi dgn tren, siap2 jadi sejarah.

Anonim mengatakan...

ini di salihara kan?

MYA mengatakan...

iya pamerannya di galeri salihara