, , , ,

arsitektur kerakyatan

Share
Beginilah suasana akhir-akhir ini, semua media sibuk memberitakan segala sesuatu tentang "kerakyatan" (atau kerakyat-rakyatan?). Minggu lalu, sebuah majalah nasional favorit saya sempat menulis juga tentang arsitektur kerakyatan, dalam rangka mengenang Alm. YB Mangunwijaya (Romo Mangun). Tokoh ini memang jempolan (bagi saya) dan merupakan satu-satunya alasan mengapa saya memilih kuliah di jurusan arsitektur. Pemikiran beliau pernah begitu mempengaruhi pola pikir saya. Sebagai fans berat, bolehlah saya menulis sedikit hal tentang beliau.

Kalau menurut majalah yang bersangkutan, beliau adalah anak bangsa yang memperjuangkan rakyat melalui arsitektur (wow.. tim sukses capres pasti senang dengan kalimat itu hehe..). Yang paling terkenal tentulah kampung di tepi Kali Code, Yogyakarta. Waktu itu, karya arsitektur merupakan suatu "mahluk" untuk kaum berada, bahkan kata "arsitektur" mungkin tidak dikenal oleh rakyat kebanyakan. Yang namanya membangun kampung kayaknya tidak dianggap sebagai karya arsitektur. Apresiasi terhadap karya beliau ini memang baru bermunculan setelah mendapat penghargaan internasional Aga Khan. Bayangkan, bantaran kali Code yang kumuh itu dia rancang menjadi lingkungan yang layak, bermaterial sederhana tapi berhasil didesain dengan kreatif dan atraktif. Kampung itu memiliki ruang-ruang publik tempat masyarakat berinteraksi. Bandingkan dengan (misalnya) desain pertokoan mewah yang juga tergolong ruang publik, tapi orang-orang di dalamnya tetap individual dan tidak merakyat (malah ngajarin orang untuk bersaing jadi paling konsumtif).

sumber foto: arsitekturfoto.com
Sebetulnya karya beliau tidak cuma pro rakyat, tapi juga pro lingkungan, coba simak kompleks Sendang Sono. Menurut artikel yang saya baca, sebetulnya Romo Mangun bukan membangun bentukan arsitektur melainkan numpang berarsitektur di alam. Jadi maksudnya, desain beliaulah yang beradaptasi sesuai dengan konteks lingkungan, bukannya malah lingkungan yang harus diubah dan disesuaikan dengan ide desain. Menurut saya, ini merupakan salah satu bentuk penghormatan manusia kepada bumi.

Romo Mangun banyak menulis buku, mulai buku arsitektur hingga sastra. Beliau pakarnya fisika bangunan (untuk merancang bangunan yang ramah lingkungan, tentulah kita harus paham fisika bangunan khususnya untuk iklim tropis). Buku-buku non arsitektur, seperti novel atau esai-esai juga sudah sebagian besar saya baca (kecuali yang tidak dijual di toko buku). Dalam tulisannya, beliau senang berfilsafat, ini yang menjadi daya tariknya. Membaca bukunya tak bisa cepat-cepat karena saya harus memikirkannya. Tapi tidak juga mudah untuk dilupakan karena membekas terlalu dalam. Saya sempat terganggu ketika mendengar ada teman yang berkomentar, "Dia kan berjuang untuk kepentingan agama tertentu". Yah, saya bukan tipe orang yang memandang prestasi seseorang karena pengaruh latar belakang keyakinannya. Jadi, saya justru kasihan banget dengan teman saya itu, pintar tapi pikirannya kok sempit sekali.

4 komentar:

jekkk mengatakan...

studju mee.. romo mangun itu sosok arsitek indonesia yang bener-bener arsitek luar dalam.. dari hidupnya, pemikirannya, dan pengaruh karyanya pada lingkungan binaan....latar belakang hanya membuat warna.. bukan mengubah esensi arsitektur itu sendiri..

yg gw tunggu..sapa sekarang
"penerus" romo mangun?... apakah eko prawoto? apakah mamo? atau apakah arsitek yang lebih muda dari kita-kita ini?... yang pasti.. rakyat tetep butuh sosok yang selalu mengidamkan lingkungan binaan yang lebih baik...

MYA mengatakan...

yup... gw pun ngefans berat dgn 2 arsitek yg lo sebut :D

susah jek, nemu yg merakyat hari gini, hehe... barangkali Riri rumah madu segera menyusul :D

angkiperdana mengatakan...

ada yang menarik di akhir tulisan MYA
"pintar tapi pikirannya kok sempit sekali."

Justru teman MYA itu tidak pintar dong kalau pikirannya sempit :)

Supaya pintar dalam arti sesungguhnya, kita kan harus mempelajari pemikiran orang lain kan?

IMHO, yang pintar itu MYA, karena masih semangat belajar terus..

BTW, blognya aku masukkan dalam blogroll-ku ya?

Salam.

MYA mengatakan...

halo Angki,
itu cuma sindiran kok :D karena yang bersangkutan memang pintar dalam hal akademis yang saya yakin ilmunya tidaklah sedikit. tapi dia kok begitu ya, hehehehe......

thanks udah dijadiin blogroll :D