, ,

Sulitnya Menjadi Hijau

Share

Mr. Al Gore boleh berbangga, kampanye Global Warming-nya sudah begitu merasuk ke berbagai kalangan. Termasuk kalangan bisnis yang konon demi pundi-pundi uang, mereka sulit merawat bumi. Namun, sekadar tahu, prihatin, peduli, tentu bukan tujuan akhir Mr. Al Gore dan umat manusia yang mengaku mencintai bumi. Sekedar pernyataan dan bergaya hidup "hijau-hijauan" pasti tidak cukup. Dampak dari tindakan "ramah lingkungan" untuk masa depan bumi adalah tujuan utamanya. Sudah benarkah perlakuan kita pada bumi?

Dikisahkan, seorang pejuang lingkungan asal Eropa (sebut saja Alex) sudah gigih membina lingkungan sejak 10 tahun silam. Dalam menjalankan bisnisnya, ia meyakini bahwa dengan menghemat energi pasti kita akan menghemat biaya. Tidak cuma bisnisnya saja yang dijalankan seperti itu, tapi ia juga berusaha mempengaruhi kolega bisnisnya agar mau berpihak pada lingkungan. Awalnya, Alex menjadi direktur lingkungan hidup di sebuah kompleks hotel di tempat wisata ski. Di sinilah ia memulai aksi lingkungannya, target pertamanya adalah manajer salah satu hotel di sana. Ia memberi informasi bahwa bila hotel mau memasang lampu fluorescent yang hemat energi, hotel bisa menghemat 75% pengeluaran untuk pembayaran listrik. Tapi sang manajer menolak karena khawatir suasana hotel tak bisa memuaskan tamunya. Tawaran berlanjut, "bagaimana jika di tempat parkir saja?", sebab di tempat itu pastilah tamu tak mempermasalahkan suasana ruang. Alex menambahkan benefitnya: "Anda bisa hemat 10.000 dollar, lho!". Usul ini kembali ditolak, karena manajer hotel merasa tidak perlu penghematan seperti itu. Mungkin si manajer merasa, mobil-mobil para eksekutif yang menginap pun harus diperlakukan istimewa. Usahanya saat itu gagal total.

Singkat cerita, perlu waktu bertahun-tahun bagi Alex untuk menggandeng berbagai kalangan di lingkungan bisnisnya agar mau menyediakan waktu dan uangnya demi kelestarian bumi. Kini, ia masih berjuang. Di antara kegagalan yang jumlahnya banyak sekali, setidaknya ada beberapa proyek yang berhasil ia golkan. Seperti, pembangunan pembangkit listrik mikro bertenaga air dan proyek panel bertenaga surya yang bertengger di lereng-lereng pegunungan ski. Tidak mudah untuk meyakinkan pebisnis agar mau mengubah pola bisnis yang lebih hijau. Rata-rata mereka masih menyukai hijau sebagai "label" untuk menaikkan value, tapi aplikasinya ternyata nol. Setelah berulang kali gagal, Alex berkata, "untuk menjalankan bisnis yang benar-benar ramah lingkungan rasanya mustahil. Bahkan untuk mengurangi konsumsi energi, dampaknya belum tentu berarti bagi lingkungan". Ini bukan karena dia putus asa, tapi memang demikian adanya. Dari sisi ekonomi, penghematan energi juga belum memberikan angka yang signifikan. Misalnya, ketika bisnis perhotelan semakin maju, tamu yang datang makin banyak sehingga energi yang dibutuhkan akan makin meningkat. Para pebisnis malah melihat hemat energi bukan sesuatu yang signifikan untuk dilakukan.

Di Indonesia, segala sesuatu terbentur oleh biaya. Termasuk, kondisi lingkungan yang kerap dikorbankan demi menghemat biaya. Green Economics barangkali cuma mitos, atau mungkin perlu ada sudut pandang baru agar ekonomi dan lingkungan hidup dapat berjabat erat. Nasibnya sama seperti isu Global Warming yang kayaknya makin memudar.

7 komentar:

Anonim mengatakan...

pasti sulit, tp sekecil apapun perbuatan kita pasti kan ada efeknya, kalau tidak dimulai gimana bisa slamet bumi kita. bencana terus2an. dia baru 10 tahun kan berjuangnya, masih kurang bgtlah.

MYA mengatakan...

mr.anonim, memang idealnya kan gitu tapi menurut artikel yg saya baca, setelah dihitung dgn angka2 kuantitatif ternyata dampak dari usaha2 tersebut kecil sekali untuk bumi (atau malah tidak ada). lalu secara itung-itungan ekonomi juga begitu. belum bisa terlihat dalam hitungan 10 tahunan mungkin.

Angki mengatakan...

Dear Mya,
sepertinya posting di blog RumahPintar mungkin relevan.

"saya pribadi masih yakin bahwa dalam beberapa tahun ke depan isu Bangunan Hijau ini akan semakin relevan, hanya masalah waktu dan perubahan pola pikir.

Sama seperti permasalahan lain dalam hidup, tidak mungkin kita menyelesaikan permasalahan baru dengan cara lama. Cara-cara baru dalam persiapan dan desain juga harus tetap diciptakan dan disosialisasikan hingga pada akhirnya semua orang menjadi terbiasa dan secara tidak sadar menerapkannya dalam bangunan yang mereka huni."

Sepuluh tahun yang lalu, blogging semacam ini tidak dimungkinkan karena koneksi internet masih sangat lambat dan orang pun belum terbiasa membaca blog.

Kini, apalagi dengan Facebook dan Google, hal ini menjadi mudah sehingga orang secara tidak sadar memaksa dirinya untuk terbiasa.

Mungkin nanti, hal yang sama akan terjadi dengan Green Building.

Entah mengapa, saya sendiri masih yakin Green Building akan menjadi "Architecture 2.0" di masa depan. Walaupun mungkin anak-anak saya yang menikmati, dan saya sudah terbaring di alam kubur :)

si anis mengatakan...

Mr Alex ini siapa ya nama aslinya? Ia layak dipublikasikan agar (diharapkan) dunia terpancing oleh niat baiknya menghemat energi

MYA mengatakan...

@Angki: jujur, saya sangat memimpikan cita-cita desain ramah lingkungan itu benar2 tercapai. saya juga pernah kecewa menyadari betapa susahnya untuk konsisten pro lingkungan. tapi saya sadar mmg prosesnya tidak mgkn instan (bertentangan dgn gaya hidup skrg yg serba pgn cepet2). kalau skrg (apalagi di indonesia) barangkali masih berupa wacana.

@Anis: ada, tp gw lupa, nama2 jerman gt deh. pernah ditulis di business week bbrp bulan yll.

edenia, mengatakan...

kalau bukan menjadi suatu gerakan global, rasanya sulit untuk mewujudkan green building.ini menyangkut political will juga.karena tampaknya, yang terjadi dalam politik global sekarang adalah "SDM euy..!" alias selamatkan diri masing-masing.yang mungkin bisa dilakukan adalah dengan mengubah (gaya) hidup.tetapi kalau sudah menyangkut urusan bisnis dan uang, (gaya) hidup yang bersahabat dengan alam dan lingkungan, masih sekadar slogan semata..

MYA mengatakan...

@edenia
prosesnya memang panjang. itu gak apa2. yg penting kita tetap bisa konsisten, jadi jangan seperti tren yang datang pergi. manusianya juga gak boleh kehilangan energi untuk memperjuangkannya.