,

Siapakah Yang Dinamakan Arsitek di Masa Lampau??

Share



Sedih rasanya bila kita melihat kondisi negara yang masing elemen-elemen saling menyalahkan, terbawa arus ego dan kebanggaan semu. Keadaan ini sebenarnya lumrah saat kita terlalu berorientasi pada template, standar, dan kondisi ter-ideal. Tapi secara tak sadar, orientasi itu membuat segementasi yang semakin banyak, atau jika dikatakan jurang, mungkin jurang yang semakin besar, antara pengetahuan dan ketidak tahuan.

Begitu pula yang terjadi pada kumpulan individu, yang dipayungi kesamaan cita-cita (mungkin) dalam sebuah wadah organisasi. Bagi saya berorganissasi itu penting, dan memiliki sebuah kapabilitas itu penting. Tapi ada satu hal yang terpenting bila kita ingin memecahkan masalah, ialah cinta. Terkesan melankolis, padahal itu benar-benar logis. Saya ingat ketika baru masuk dunia kampus arsitek, saya diboyong oleh ketua jurusan, yang membawa saya ke salah satu bukit di kampus. Dia memperlihatkan keadaan kampung sekitar, yang tak tertata. Dia berkata "Itu adalah masalah kalian, dan menjadi tugas kalian untuk membenahinya". Terus terang kejadian itu akan saya ingat selalu, mungkin sampai saya mati. Seolah beliau memberikan "jembatan cintanya" untuk kami, yang dahulu adalah calon arsitek.
Berbeda halnya dengan ketua jurusan yang berikutnya, yang malah dengan sinis mengatakan, " Jika tak kuat jadi arsitek, lebih baik keluar dari sekarang". Dari awal jurang ketakutan sudah terbentuk. Badan harus melompat untuk melewati jurang itu.

Saya bertekad.. suatu saat saya akan berada di sebuah organisasi keprofesian karena cinta saya pada dunia arsitektur dan lingkungan binaan, bukan karena karya-karya saya , bukan karena ketakutan atas desakan orang lain, nafsu duniawi mengejar proyek dan kenarsisan karya, atau akibat faktor arogansi yang saya benci....

Maka saya pun ingin melepas penat dengan jalan-jalan... Menikmati pengalaman ruang dan waktu yang benar-benar lebih nikmat dari sekedar mimpi.. Menikmati karya bisa membuat saya bersyukur, dan lebih dekat pada Sang Maha Pencipta.. Mimpi hanya bisa membuat orang menjadi elitis-elitis yang berpijak di awan-awan dunia ego...

Tak terasa waktu berlalu ..Saat jalan-jalan menikmati candi Borobudur yang megah, selalu saya bertanya.. Untuk apa mereka membuat karya dari batu-batu yang berat itu. Apakah candi/stupa adalah simbolisasi keadaan pada saat itu seperti halnya patung selamat datang dan monas di jakarta, atau merupakan sosok bentuk yang harus hadir di tengah-tengah masyarakat pada saat itu??

Saya bertanya mengenai konteks... kenapa sebuah candi tercipta..



Borobudur,adalah sebuah candi yang dikawasan Magelang yang relatif dingin. Borobudur saya jadikan contoh betapa arsitek adalah sosok pemersatu...bukan pemecah belah..

Candi Borobudur merupakan bangunan suci berbukit sebagai peninggalan sejarah agama Buddha mazhab Mahayana. Dari prasasti tahun 842 Casparis menyimpulkan bahwa nama lengkap monumen sejarah itu adalah Bhumisambharabhuddhara yang berarti "Gunung himpunan kebajikan sepuluh tingkatan Bodhisattva". Dengan arsiteknya Gunadharma.

Candi Borobudur yang dibangun sekitar abad ke 8, diperkirakan para ahli dari penyelidikan terakhir menunjukkan bahwa Borobudur dibangun lebih dahulu dari candi Kalasan, sedangkan candi Mendut didirikan lebih dahulu dari candi Borobudur pada tahun 824 oleh Raja Indra.

Dan inilah kejadian-kejadian yang terjadi, yang menyebabkan Borobudur hadir di tengah kita, menjadi sebuah "solusi" di tengah kehancuran mental dan budaya masyarakat di sekitar kerajaan saat itu

Kejadian 1:
Kehidupan cenderung berubah bagai Cakra Manggilingan, yang menggambarkan keserakahan, keangkaramurkaan, saling menindas yang mengakibatkan kacau dan suasana mencekam. Kehadiran Rakai Panangkaran yang dikenal sebagai sosok spiritualis tanggap terhadap kehidupan manusia yang perbuatannya tidak terpuji, untuk itu maka ia mengajarkan tentang jalan kehidupan yang baik. Ajaran tersebut dalam bentuk batu berundak (Candi) yang berisi ajaran hidup Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu.

Kejadian 2:
Suasana kerakyatan dan kegotongroyongan, kebersamaan dan semangat masyarakat di lereng Bukit Menoreh dalam mengawali pembangunan Candi Borobudur. Kemudian muncul gangguan dari makhluk halus yang mengakibatkan penderitaan rakyat. Para punggawa kerajaan dan Bhiku segera mengambil tindakan untuk mengusir roh-roh jahat.


Kejadian 3:
Raja Samaratungga bertekat untuk menyelesaikan pembangunan Candi, dengan bantuan dan dukungan segenap rakyat secara bersatu padu bekerja keras untuk menyelesaikan bangunan Candi Borobudur.

Kejadian 4:
Raja Samaratungga, para punggawa dan segenap masyarakat bersyukur atas selesainya pembangunan Candi Borobudur dengan bersimpuh dan berdoa di bawah pimpinan para Bhiku untuk perdamaian dan kedamaian hidup.



Sikap arogan dan dominansi merajalela di jaman "kacau balau" ini.. mirip seperti kejadian jaman Kerajaan Saylendra.. semua elemen terkait dengan sifat kearogansian. Hanya satu hal yang bisa mengikat, cinta.

Perhatian pada rakyat yang diperhatikan oleh Rakai Panangkaran tidak ditunjukkan dengan membebaskan beban orang yang satu dengan yang lainnya.. tapi membuat sama-sama bertanggung jawab membentuk sebuah "pencapaian baru" menuju kesempurnaan...

Gunadharma sang perancang, menjadikan borobudur bagian dari alam semesta, dengan mengaitkannya pada posisi bintang kutub yang dulu masih terlihat. Memapas bukit, membuat umpak-umpakan yang semua berisi pencapaian makna diri...

Arsitek itu seperti penghubung antara alam manusia dan alam raya.. adalah pembuat solusi, entitas yang menghubungkan identitas, wakil rakyat, empu yang mencipta dengan restu alam semesta. Arsitek adalah laku, bukan pelaku.

Kesempurnaan bukanlah milik seseorang saja.. jalan menuju kesempurnaan adalah milik semua orang. Pemegang amanah dengan tugas Arsitek bukanlah sosok yang sempurna dan harus diikat dengan "organisasi yang seolah disitulah kesempurnaan berkumpul".

Ayoo lah... pleasee.. jangan sekaku itu.... tebarkan cinta di bumi ini.... hindarilah berdiri di tepi jurang. Kesempurnaan adalah kebersamaan, kesadaran bersama mengelola proses dari yang buruk menuju hal-hal yang baik...

Dan semua itu diikat dalam cinta... bukan rasa saling mengkotakkan..


saya

arsitek indonesia

sumber:
- http://www.indonesiamedia.com
- http://www.walubi.or.id
- http://navigasi.net
- http://www.blogger.com/feeds/367872120554888292/posts/default
- http://www.yogyes.com
- dan berbagai sumber lainnya

11 komentar:

Anonim mengatakan...

jaman dulu, arsitek bisa siapa saya yang berinisiatif dan membuat rencana sekaligus memandori sebuah karya tiga dimensi yang dinikmati oleh manusia.dan pada saat itu, belum ada undang-undang tata bangunan, belum ada keingininan masyarakat untuk menuntut keamanan dan uji kelayakan bangunan, semua diserahkan pada nasib dan takdir. kalo rumahnya rubuh ya itu karena sang pencipta yang menggariskan demikian, bukan menyalahkan si arsitek. di jaman yg serba main logika,mereka selalu mencari pelaku kesialan yg dialami seseorang/kelompok. padahal, siapa tau emang udah takdirnya demikian hehe...jadilah ada macam2 aturan dan UU tata bangunan dsb yg wajib diketahui arsitek.hehe...dan sprt yg gw bilang tadi, jaman dulu gak pake sekolah kusus. siapa aja bisa jadi arsitek.skrg, arsitek seperti keharusan.sudah lulus kuliah arsitektur ya jangan jadi ekonom dong ato mo jadi hakim.makanya, label sebuah keanggotan adalah jaminan keamanan terhadap kefasihan dan ketrampilan seseorang akan kemampuannya di suatu bidang. tuntutan untuk selalu berjalan pada jalur masing-masing berdasarkan titik awal yang sudah kita pilih. alakh!! susah ya dicerna..ya sudah, gak usah dipikirin jek.hehe

Private! mengatakan...

hehe... jaman dulu justru bangunan lebih tahan lama.. bisa ribuan taon nis.. prosesi sebelum berkarya itu adalah sebuah kewajiban.. bukan sekedar plek jadi..

bagi gw..pembuktian kepada masyarakat adalah sebuah totalitas proses.. bukanlah pencarian sensasi..

gw mah males mikirin organisasi..apalagi yang beberapa individunya hanya cari sensasi..

gw mah mu bikin karya yang bisa disyukuri semua pihak..

solusi yang paling adil.. bersayembaralah sebelum bikin karya.. dan semua orang berhak berkarya..

halah.. menulis memang paling enak nis..uhuy

MYA mengatakan...

Hai Anis apa kabar? Masih di Hongkong? Btw Jek, organisasi yang individunya cari sensasi, yg itu bukan ya? hehe..

Anonim mengatakan...

Yah jek, tolok ukurnya jangan hanya candi borobudur, prambanan, atau istana raja..itu kan bangunan2 yang diberkati istilahnya hehee...makanya gak rubuh(xixii..ngayal). Mungkin event2 yang diadakan oleh organisasi itu wujud sebuat 'prosesi' modern. kalo dulu pake kembang 7 rupa dan semedi seminggu, kalo sekarang mgkn pake duit 700.000 sekali datang dan seminggu ikut seminar keprofesian arsitek hahah... emang organisasi apa sih yg 'ndak asik' itu jek? jd penasaran gw. setujuu..semua org berhak berkarya!!
BTW, ini mya trisakti bukan? hai hai....gw masih di HK my. apa kabar??

Private! mengatakan...

nganu..nis..
candi borobudur memang bukan tolok ukur satu-satunya..itu naif namanya..hehe..

na masalahnya.. kalo dibalik... apakah organisasi itu adalah tolok ukur satu-satunya seseorang bisa dikatakan "bener-bener" arsitek atau hanya player?...hehe..

kita kadang terlalu sibuk /terjebak di koridor nilai2 logis ala barat..
hingga orang2 timur seperti kita melupakan detail identitas.. dan memuja template yang seolah mudah dijalani...

MYA mengatakan...

Ralat Nis gw dulu bukan di trisakti tp di UI :D

angki mengatakan...

Kalau kata teman saya, di Mesir dulu, Arsitek yang paling ngetop itu Imhotep.

Eh malah jadi musuhnya Brendan Fraser di The Mummy... gak ada hubungannya sama arsitektur jadinya:P

MYA mengatakan...

@Angki: oiyaya, dia arsitek? ceritain yg komplit dongs.. bener gw taunya dia tu jahat gt gara2 tu film :D

yu sing mengatakan...

zak..tulisannya boleh juga..sampai mundur jauh ke borobudur..hehe.
Kebersamaan sebetulnya kata kunci organisasi. Ruang sosial yg lebih luas. Tapi di tiap era, suka ada saja orang2 yang kena sindrom....kuasa/hebat atas organisasinya, lalu menjadikan oganisasinya menjadi alat arogannya...
soal organisasi arsitek yang disinggung, yah, cukup direspon ringan saja seperti zak: ayolah, jangan sekaku itu...bla3. Lebih tepat responnya..hehe.
soal sempurna, gak ada tuh yang sempurna selain Sang Pencipta. Memang kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin, bukan utk sempurna.

Zak, kalau nulis dibagi2 dong..ini udah setaon lebih loh..hehe

MYA mengatakan...

@mas yu sing
salam kenal. thanks udah mampir2.. gimana program kampungnya, ikutan dong.. hehe..

Private! mengatakan...

Halow kang..eh..skarang dah jadi Mbah.. Yu Sing..Trims sudah berkunjung. Saya selalu tertarik mengikuti proses yang Mbah Jalani untuk menciptakan (menurut saya) arsitektur penuh cinta... tanpa batas.. dan kerakyatan yang pasti..
Dan saya yakin banyak yang mendukung langkah mbah untuk memajukan arsitektur nusantara..

Saya selama ini masih berpijak pada Romomangun ketika berbicara tentang identitas arsitek Indonesia... Lepas dari masalah agama. Beliau dengan segala usahanya selalu menjadi jembatan pengetahuan dan ketidaktahuan... yak...dengan segala upayanya...

Ga banyak arsitek yang rela berkorban di jalan itu.. mungkin ia adalah simpul semesta, seperti laku arsitek pada dulu kala yang memang lebih 'terbaca' sebagai spiritualis dengan zonasinya yang berada di area brahmana.. :)