
Senin tanggal 5 Mei 2008, Saya mengikuti forum pengembangan wawasan yang diadakan oleh redaksi majalah iDEA. Kali ini redaksi mengundang pakar arsitektur lansekap, Nirwono Yoga (dipanggil mas Yudi), dan rekannya ibu Anggia Murni, seorang pakar di bidang lansekap dan plannery.
Beberapa hal penting terungkap di forum. Diantaranya mindset tentang pembuatan taman di rumah yang sering dipahami secara pendekatan visual saja. Bahwa memiliki taman yang indah membuat hati puas itu betul. Namun banyak hal lain yang harusnya kita sadari terkait keberadaan kita di lingkungan, seperti larinya run off water (air di atas tanah) dan recycling dari sampah-sampah organik (daun-daun, dan batang busuk) yang berasal dari taman kita.
Kesadaran kecil terhadap dua hal diatas berarti membuka mata kita agar bisa melihat kehadiran taman dalam kacamata nilai-nilai ekologis.
Ekologis?
Ternyata menurut Nirwono Yoga, pendekatan fungsi taman secara ekologis lebih utama bagi para pemilik rumah-rumah kecil. Karena untuk lahan yang kecil, makna kapasitas lahan sebagai tempat serapan air dan recycle bahan organik menjadi lebih krusial dibanding hanya membuat taman yang indah dan cendrung memubazirkan biaya karena mahal. Taman yang berfungsi ekologis juga lebih bermanfaat untuk desain-desain rumah yang bertemakan Green Building. Nilai-nilai ekologis juga membuat desain taman menjadi lebih ekonomis dan efisien dalam pemeliharaannya.
Apa sih yang harus dilakukan bila kita ingin membuat taman yang ekologis?
Ada beberapa 3 pendekatan utama sebenarnya yang bisa dilakukan untuk memahami taman yang ingin kita buat.
1. Mengintegrasikan desain taman dan desain rumah
Banyak cerita dan kejadian yang kita dengar dan lihat, tentang taman yang membosankan atau tidak nyambung dengan bangunan. Apa sih penyebabnya?
Seperti ungkapan dalam zen, keselarasan adalah kunci ketenangan. Keselarasan desain taman yang mencakup komposisi,posisi, dan desain taman (misal modern, klasik, atau tropis) dengan rumah menjadi kunci utama dari kesuksesan mendesain taman. Taman yang menarik akan membuat nilai visual rumah pun menjadi lebih menarik. Nilai visual yang terintegrasi, tidak saling mendominasi satu sama lain sehingga terlihat nyaman dipandang.
Komposisi taman haruslah seimbang. penggunaan hard material dan soft material harus disesuaikan dengan luasan lahan dan bukaan yang ada di rumah. Rumah yang banyak bukaannya mungkin menjadi tren saat ini (terkait dengan isu global warming dan penghematan energi), namun apa jadinya bila rumah dengan bukaan yang banyak itu tidak didukung oleh taman-taman yang rimbun. Panas, kering kerontang dan gerah rasanya di dalam rumah.
2. Memahami elemen-elemen ekologis di rumah
Beberapa kendala pasti muncul saat mendesain taman, salah satunya yang paling umum adalah keterbatasan lahan. Apakah perlu kita membuat taman, karena untuk jemur aja lahannya masih kurang?
Naaa disini lah peran pendekatan taman ekologis berbicara. Taman tidak harus berfungsi secara visual, namun taman tetap dibutuhkan sebagai lahan serapan air. Selain itu memang di setiap lokasi khususnya di Jakarta telah memiliki standar persentase penggunaan lahan. Standar itu tertuang dalam RUTR pemda DKI yang menetapkan keharusan adanya lahan hijau di rumah, walau persentasenya berbeda-beda di setiap kawasan. Seperti di Jakarta Utara yang relatif padat, KDH (koefisien Dasar Hijau)-nya hanya sekitar 10%. Berarti, harus ada sisa lahan sebesar 10% dari luas lahan yang ada untuk dijadikan lahan hijau ( taman, atau lahan serapan). Untuk wilayah lain di Jakarta, persentasenya lebih besar lagi. Di Jakarta Barat sekitar 15-20%, dan di Jakarta Selatan mencapai 25 -40% lahan hijau yang harus disediakan.
Saat mendesain rumah, hendaknya kita memikirkan aspek ekologis juga. Kemana air hujan mengalir, kemana daun-daun kering akan dibuang? Akankah dibuang ke tempat sampah begitu saja?. Dan satu hal lagi, haruskan taman ditanami tanaman yang mahal?
Desain taman yang terintegrasi berarti juga mengintegrasikan kebutuhan hidup kita pada taman yang kita buat. Hal itu termasuk menjadikan taman sebagai tempat kita memelihara tanaman produktif untuk kebutuhan kita. Keadaan saat ini menuntut kita (warga kota) lebih mandiri dalam bertindak. Menanam tumbuhan produktif seperti rempah-rempah dan tanaman obat adalah salah satu tindakan yang bijak untuk mengurangi pemakaian energi bensin saat pergi ke pasar hanya untuk membeli rempah-rempah.
Di sisi lain desain yang matang membuat kita tak gagap saat tren baru melanda. Orang-orang sedang gagap menggunakan sumur biopori, kita ternyata juga sudah menerapkan prinsipnya (menguraikan zat organik) dengan membuat sumur-sumur serapan sendiri sedari awal.
3. Melakukan pendekatan kebutuhan 5 panca indera kita terhadap taman
Taman selalu ada di rumah-rumah masyarakat Indonesia sejak jaman dulu. Walaupun memang tipologi taman khas Indonesia menurut Nirwono Yoga tidak menggunakan rumput sebagai hamparan utama, namun terdiri dari kelompok-kelompok tanaman yang dipisahkan oleh jalur-jalur path utama. Ini berarti kebutuhan orang akan sebuah ruang visual untuk refresing mata adalah mutlak. Keberadaan taman terkait dengan kebutuhan maintenance panca indera kita. Panca indera kita pun butuh asupan-asupan makanan visual dan taste baru agar tidak mudah merasa jenuh dan bosan dengan keadaan yang ada.
Mata tak harus dibiarkan letih melihat hamparan jalan hitam, dan bentangan gedung-gedung yang tinggi menyilaukan mata. Mata butuh kembali ke alam agar diperkaya dengah hal-hal baru dari alam yang akan membuat kita bersyukur atas penciptaan.
Menurut ibu Anggia murni, salah satu fungsi taman adalah sebagai pengalih pandangan untuk memperkaya fungsi panca indera. Memahami alam membuat mindset kita berkembang, dan mempengaruhi karya kita. Wah, bener deh, pemerintah kita begitu tertinggal mindset-nya. Saat pemerintah Jakarta masih sibuk mengejar target penanaman 10.000 pohon dengan mengabaikan jarak tanam sehingga tumbuh semrawut, Singapur sendiri sudah berbenah maju beberapa langkah dengan mendesain taman kota yang bisa didatangi banyak kunang-kunang, kupu-kupu, dan burung-burung yang memperindah suasana.
Pengayaan taman yang memberikan makna kaya pada panca indera itu penting, seperti penanaman tanaman yang tidak hanya berdaun hijau, tapi bisa juga silver, atau pemberian ornamen pembentuk suasana yang menyegarkan mata.
Pendengaran pun menjadi penting saat menikmati taman. Suasana kicau burung pagi, gesekan pohon dan daun bambu, atau gemericik air membuat suasana tenang dan kita merasa jauh dari masalah. disitulah fungsi taman sebagai penghibur pendengaran. Taman pun bisa membantu kita memperkaya daya indera penyentuh kita, misalkan dengan menanam tanaman yang memiliki tekstur bermacam-macam, seperti pakis monyet atau tanaman anthurium yang memberikan kesan melegakan saat kita berhasil membuat anthurium kita berdaun besar dan kokoh saat disentuh.
Ingin rasanya kita memiliki taman yang indah, yang memanjakan panca indera dengan keindahan visual, kelembutan, dan harumnya. Hal-hal itu bisa membuat kita merasa lepas dari kerumitan masalah dalam hidup. Kembali ke alam sebuah pilihan yang indah. Ayo kita bersahabat dengan alam!
1 komentar:
artikel anda bagus dan menarik, artikel anda:
http://rumah-taman.infogue.com/
http://rumah-taman.infogue.com/menghijaukan_rumah_secara_ekologis
anda bisa promosikan artikel anda di www.infogue.com yang akan berguna untuk semua pembaca. Telah tersedia plugin/ widget vote & kirim berita yang ter-integrasi dengan sekali instalasi mudah bagi pengguna. Salam!
Posting Komentar