"Di Indonesia nih?" demikian ungkapan keheranan robertsmith, salah satu anggota forum komunitas.Tampilan bandara baru Sultan Hasanuddin ini memang beda dengan bandara lain di Indonesia. "Bercita rasa modern," kata pejabat Angkasa Pura saat soft opening, 4 Agustus lalu. Karena bandara yang lama dianggap kurang layak untuk menjadi pintu gerbang Makassar, maka sejak 3 tahun lalu dimulailah pembangunan bandara yang baru. Letaknya hanya 2 km dari bandara lama. Kini, bandara baru sudah sebulan beroperasi, kendati acara peresmiannya terus tertunda.
Tampilan baru yang mencengangkan bagi sebagian orang ini tak luput dari kritik. Menurut Lembaga Ekonomi Insan Sulawesi, bangunan bandara ini arsitekturnya tak berkarakter Makassar. Kami setuju, meski hanya melihatnya dari foto atau gambar bergerak di Youtube.com. Sekilas mirip dengan bandara di China atau Korea. Tapi kritik ini buru-buru ditampik pihak bandara. Dikutip dari Tribun Timur: "Kita tidak secara langsung mengadopsi arsitektur lokal, melainkan gabungan modern dan tradisional. Misalnya, lengkung-lengkung di bagian depan menggambarkan semangat orang Bugis/Makassar dan gerbang utama idenya dari atap rumah Toraja Tongkonan." Namun menurut kami, penggabungan ini sekadar bentuk, bukan ruang sehingga tetap kurang terasa.
Satu yang menurut kami menarik adalah langit-langit interior lantai atas, konon mengambil model kain sulam tradisional Mandar. Semoga dengan bangunan baru ini bandara Hasanuddin makin meningkat kualitasnya, baik keselamatan (safety), keamanan (security), maupun pelayanan publik (service). Tidak lagi terburuk versi audit Departemen Perhubungan (baca: http://www.antara.co.id/arc/2007/6/12/ngurah-rai-bandara-terbaik-hasanuddin-terjelek/), seperti tahun 2007 lalu.
1 komentar:
bandara berbau politik
(Yos)
Posting Komentar