Sebetulnya saya menantikan calon pemimpin kita meneriakkan kalimat tersebut ketika berkampanye di hadapan masyarakat. Terutama mereka yang menjunjung tinggi ekonomi kerakyatan. Pembangunan mall menurut saya mesti dibatasi mengingat tempat yang menyenangkan ini membuat rakyat makin konsumtif, sementara itu di tempat lain, mall dikatakan telah mematikan pedagang kecil di sekitarnya. Memang asyik kok jalan-jalan ke mall, tapi dengan kreativitas, pasti banyak tempat menyenangkan lain yang nggak bikin kita jadi konsumtif.
Saya pernah dapat informasi bahwa ada seorang bupati di Yogyakarta yang melarang pembangunan mall di kabupaten yang dipimpinnya. Begini salah satu cuplikannya: "Mini market yang terlalu banyak dan letaknya berdekatan dengan pasar-pasar tradisional dikuatirkan bisa mengganggu perkembangan para pedagang pasar tradisional, pengusaha kecil dan toko-toko kecil di sekitarnya. Selama ini pak Bupati sudah mengeluarkan larangan pendirian mall atau supermaket, dengan alasan untuk melindungi pedagang pasar tradisional. Untuk mini market atau swalayan dan sejenisnya hanya ditunda sementara, sambil menunggu keluarnya peraturan baru". (http://www.bantulkab.go.id/web.php?menu=berita&baca=323)
Yang berbicara itu adalah salah seorang pejabat di kabupaten setempat. Wah, senang juga mendengar ada pejabat pemerintahan yang berani menolak mall. Tapi, ngomong-ngomong, efektif nggak ya cara seperti itu? Ternyata tidak sesederhana itu, karena menurut beberapa komentar, banyak penduduk yang memang dasarnya suka dengan suasana mall akhirnya jalan-jalannya ke mall di kota 'sebelah'. Jadi uangnya malah mengalir ke daerah lain, akibatnya roda perekonomian di kabupaten itu kurang giat. Seseorang juga berpendapat, adanya mall itu justru menandakan kemajuan daerah tersebut, artinya ada investor yang menangkap potensi di situ.
Kabarnya, mall bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi penduduk sekitarnya. Tapi ini buru-buru ditepis oleh salah satu warga, menurutnya, penduduk sekitar tetap miskin. Apalagi pedagang kecil, semakin tidak laku jualannya. Susah juga ya, kalau saya, mall itu baru 'berguna' kalau terintegrasi dengan fungsi-fungsi bangunan yang lain (dgn kantor, tempat tinggal, dan jenis ruang lain yang kita butuhkan). Jadi, kita tidak usah berpindah tempat terlalu jauh untuk memenuhi kebutuhan. Soalnya saya paling sebel liat kemacetan akibat mall-mall di kota. Setiap ada mall baru yang pertama kali terpikir oleh saya: "Wah, bakal macet nih daerah sini."
Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab
1 komentar:
betul my. gw dulu bgt pernah baca tulisan ttg pembangunan carefour (hypermarket dlm hal ini) di prancis dan beberapa kota besar di eropa (tp sori, gw dah lupa baca dimana hehe). pemerintah hanya memperbolehkan lokasi hypermarket ini di suburban area bukan di tengah kota. dan memberikan ketentuan setiap beberapa km radius hanya diperbolehkan 1 hypermarket saja. selebihnya, pasar tradisional yg ambil alih. di lebak bulus coba liat aja, dikiri carefour di sebrangnya ada giant hehe..1 km juga kaga nyampe my. gimana gak macet. pemerintah kurang "galak" dan gak berani mengeluarkan perda ttg batasan pertumbuhan hypermarket
Posting Komentar